Ya, life is tough!
Hidup itu ternyata tidak seindah yang dibayangkan . Hal itu sangat terasa saat lulus dari bangku SMA apalagi memasuki dunia kerja. WOW! *tepuk tangan miris*
Beberapa hari ini cukup mengalami konflik yang pelik di kantor. Entah pingin kabur aja rasanya, tapi ya nggak bisa. Mungkin aku terbiasa kabur ketika aku ngadepin masalah sehingga sometimes aku nggak kuat dengan cobaan hdup kayak gini.
But for real, konflik ini nggak penting banget, men! Hal kecil yang dibesar-besarin dan akhirnya merembet ke mana-mana. Berawal dari kejujuran hati yang merusak segalanya. Aku baru sadar bahwa ada pergeseran makna kejujuran di dunia ini. Sometimes kejujuran memang menyakitkan but come on, are you gonna lying for the sake of your life FOREVER? Of course not!
Entah orang memandang aku sangat idealis dengan yang namanya kejujuran. Kepolosan dan ketulusan saat aku jujur mengatakan kenyataan, malah dijadikan hal untuk orang lain menggerus nilai kejujuran dari diriku.
"Kamu sih terlalu polos, jangan terlalu jujur lah ngomongnya. Di tata bahasanya biar diplomatis."
"Ngapain kamu jujur? Toh ya akhirnya kayak gini."
"Kejujuran dan kepolosanmu membawa malapetaka ya."
Salahkah aku jujur???? Masihkah ada orang didunia ini yang menjunjung kejujuran?
Entah, mungkin aku yang salah bicara dan kurang menata tutur bahasaku. People just blame me because i am a "to the point person". Ngomong dengan tujuan A ya langsung ke A. Eh ini lagi si boss mau ngomong ke A masih ke B dulu, ke C dulu, sampe ke Z baru ngomong A.
Kan wasting time yah?!!!
Malahan ada 1 orang anak baru yang bener-bener penjilat buuuuanget. Pinter banget ngomongnya, tertata banget deh pokoknya. Tapi masalah kerjaan atau isi omongannya mah NOL BESAR. Eh orang itu yang di apresiasi banget sama boss. Heran lho! Kayak aku nggak habis pikir dengan jalan pikiran orang itu. Mungkin si boss belum tau aja dia di belakangnya malah nggak menghasilkan apa-apa.
Ada lagi orang yang ngomongnya di depan kita sama di depan boss beda. Duh duh duh, kok ya munafik banget mbak. Mungkin juga bisa dikatakan penjilat kali ya orang ini. Di depan kita buaiiiiik banget ehhh ketika meeting dengan boss wuh beda 180 derajat, intimidating banget.
Aku cuman bisa liat dia dan speechless. Sungguhan di dalam otakku "Ngapain aku cerita semua ke kamu dan percaya sama kamu?"
Kecewa? Marah? OF COURSE!
Entah mungkin aku yang tdk terlatih sakit hati ya, sampe ketemu orang-orang yang begini buat aku sakit banget, Lebih sakit daripada cinta bertepuk sebelah tangan, men!
Oh Lord, kenapa engkau ciptakan orang-orang yang demikian?
Dari konflik ini sih aku belajar untuk :
1. Ngomong harus diplomatis,
2. Profesional jangan kebawa perasaan,
3. Tidak gampang percaya orang lain,
4. Lebih cuek dan masa bodoh dengan orang-orang nggak penting.
5. TIDAK POLOS.
Sekian.
Hidup itu ternyata tidak seindah yang dibayangkan . Hal itu sangat terasa saat lulus dari bangku SMA apalagi memasuki dunia kerja. WOW! *tepuk tangan miris*
Beberapa hari ini cukup mengalami konflik yang pelik di kantor. Entah pingin kabur aja rasanya, tapi ya nggak bisa. Mungkin aku terbiasa kabur ketika aku ngadepin masalah sehingga sometimes aku nggak kuat dengan cobaan hdup kayak gini.
But for real, konflik ini nggak penting banget, men! Hal kecil yang dibesar-besarin dan akhirnya merembet ke mana-mana. Berawal dari kejujuran hati yang merusak segalanya. Aku baru sadar bahwa ada pergeseran makna kejujuran di dunia ini. Sometimes kejujuran memang menyakitkan but come on, are you gonna lying for the sake of your life FOREVER? Of course not!
Entah orang memandang aku sangat idealis dengan yang namanya kejujuran. Kepolosan dan ketulusan saat aku jujur mengatakan kenyataan, malah dijadikan hal untuk orang lain menggerus nilai kejujuran dari diriku.
"Kamu sih terlalu polos, jangan terlalu jujur lah ngomongnya. Di tata bahasanya biar diplomatis."
"Ngapain kamu jujur? Toh ya akhirnya kayak gini."
"Kejujuran dan kepolosanmu membawa malapetaka ya."
Salahkah aku jujur???? Masihkah ada orang didunia ini yang menjunjung kejujuran?
Entah, mungkin aku yang salah bicara dan kurang menata tutur bahasaku. People just blame me because i am a "to the point person". Ngomong dengan tujuan A ya langsung ke A. Eh ini lagi si boss mau ngomong ke A masih ke B dulu, ke C dulu, sampe ke Z baru ngomong A.
Kan wasting time yah?!!!
Malahan ada 1 orang anak baru yang bener-bener penjilat buuuuanget. Pinter banget ngomongnya, tertata banget deh pokoknya. Tapi masalah kerjaan atau isi omongannya mah NOL BESAR. Eh orang itu yang di apresiasi banget sama boss. Heran lho! Kayak aku nggak habis pikir dengan jalan pikiran orang itu. Mungkin si boss belum tau aja dia di belakangnya malah nggak menghasilkan apa-apa.
Ada lagi orang yang ngomongnya di depan kita sama di depan boss beda. Duh duh duh, kok ya munafik banget mbak. Mungkin juga bisa dikatakan penjilat kali ya orang ini. Di depan kita buaiiiiik banget ehhh ketika meeting dengan boss wuh beda 180 derajat, intimidating banget.
Aku cuman bisa liat dia dan speechless. Sungguhan di dalam otakku "Ngapain aku cerita semua ke kamu dan percaya sama kamu?"
Kecewa? Marah? OF COURSE!
Entah mungkin aku yang tdk terlatih sakit hati ya, sampe ketemu orang-orang yang begini buat aku sakit banget, Lebih sakit daripada cinta bertepuk sebelah tangan, men!
Oh Lord, kenapa engkau ciptakan orang-orang yang demikian?
Dari konflik ini sih aku belajar untuk :
1. Ngomong harus diplomatis,
2. Profesional jangan kebawa perasaan,
3. Tidak gampang percaya orang lain,
4. Lebih cuek dan masa bodoh dengan orang-orang nggak penting.
5. TIDAK POLOS.
Sekian.
Komentar
Posting Komentar